Melihat Pendidikan di Ranah Lansek Manih

Melihat Pendidikan di Ranah Lansek Manih, Pembangunan Sekolah Baru Tak Imbang dgn Pertambangan

Biaya pendidikan yang tinggi dan tak tahu muara yang dituju, kadangkala menimbulkan pandangan skeptis terhadap dunia pendidikan. Inilah beberapa persoalan yang perlu dihadapi bersama. Kepala Dinas Pendidikan Burhasman Bur dalam hal ini, berjanji akan segera memecahkan masalah mendasar pendidikan di Ranah Lansek Manih ini.

Selama ini, Pemkab dilihat lebih berpacu pada pendirian gedung-gedung sekolah baru. Sayang gedung tersebut tidak diiringi dengan pertumbuhan siswa. Malahan ada sekolah yang memiliki siswa tak sampai 30 orang. Padahal Pemkab dalam hal ini, telah mengucurkan dana ratusan juta untuk pengelolaan sekolah setiap tahunnya di Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung. Apakah jumlah gedung sekolah yang banyak akan semakin meningkatkan kualitas anak didik, rasanya, keliru besar.


Biaya pendidikan yang tinggi dan tak tahu muara yang dituju, kadangkala menimbulkan pandangan skeptis terhadap dunia pendidikan. Inilah beberapa persoalan yang perlu dihadapi bersama. Kepala Dinas Pendidikan Burhasman Bur dalam hal ini, berjanji akan segera memecahkan masalah mendasar pendidikan di Ranah Lansek Manih ini.

Selama ini, Pemkab dilihat lebih berpacu pada pendirian gedung-gedung sekolah baru. Sayang gedung tersebut tidak diiringi dengan pertumbuhan siswa. Malahan ada sekolah yang memiliki siswa tak sampai 30 orang. Padahal Pemkab dalam hal ini, telah mengucurkan dana ratusan juta untuk pengelolaan sekolah setiap tahunnya di Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung. Apakah jumlah gedung sekolah yang banyak akan semakin meningkatkan kualitas anak didik, rasanya, keliru besar.

Sebab, gedung sekolah yang bertaburan, tanpa ada siswa dan guru yang berkualitas, dan kemauan orangtua untuk memberikan pendidikan kepada anaknya, tidak ada, maka gedung sekolah tersebut akan menjadi gedung monumen pendidikan di daerah ini. Dua tahun belakangan ini, Dinas Pendidikan Sawahlunto/Sijunjung, sangat bangga berhasil mendidirikan SMP, SMA dan SMK dengan dana miliaran dari pusat.

Sayang, nilai siswa lulusan Sawahlunto/Sijunjung dibandingkan dengan siswa lain di Sumatera Barat ini, masih jauh dari yang diharapkan. Tidak dapat dipungkiri, bahwa faktor ketidakpastian tersebut, telah mempengaruhi pola pikir dan perilaku generasi muda. Dalam pemahaman mereka, bahwa belum tentu mereka bisa menamatkan sekolah, kalaupun tamat, belum tentu memperoleh kesempatan untuk melanjutkan ke sekolah yang diharapkan.

Faktor ketidakpastian ini, bukan hanya menyebabkan rendahnya apresiasi, akan tetapi juga menjadi penyebab dari munculnya perilaku yang menyimpang. Kondisi ini, akan berpengaruh pula terhadap apresiasi pendidikan, apalagi, kenyataan yang ada, orang-orang yang pintar dan berprestasi di sekolah, ternyata tidak memperoleh hasil yang terlalu baik, memasuki dunia kerja. Dalam realitas kehidupan, orang-orang dengan kemampuan yang pas-pasan di sekolah, justru memperoleh kedudukan dan penghasilan yang jauh lebih tinggi dari lainnya. Patut untuk diperhitungkan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang egaliter serta senantiasa berpikir kritis dan analistis. (*)

DR.Ir. Jaswandi, Anggota Tim Pengawas Independen dari Unand : UN Sawahlunto Sijunjung Berlangsung Sukses

Ujian Nasional (UN) 2007 di Kabupaten Sawahlunto Sijunjung berlangsung sukses dan lancar. Dari laporan Tim Pengawas, tidak ada ditemukan satupun kecurangan dalam UN tersebut. Semua ini tidak terlepas dari koordinasi dan kerjasama yang baik dari semua unsur yang terlibat dalam pelaksanaan UN ini. Dengan adanya kerjasama yang baik ini, kita merasa bangga. Kita berharap, hasil UN di Sawahlunto/Sijunjung tahun ini, dapat menghasilkan nilai maksimal. Pada tahun ini, untuk Sawahlunto/Sijunjung yang mengikuti UN sebanyak 1421 orang siswa SMA dan SMK. Sedangkan untuk SMP dan MTS yang mengikuti UN sebanyak 2435 siswa yang akan dimulai Selasa (24/4) depan. (air)

Reza Veli Abidin, Tokoh Masyarakat : Masih Kekurangan Guru

Kabupaten Sawahlunto Sijunjung hingga saat ini masih dililit kekurangan guru sebanyak 571 orang. Tahun ajaran 2006/2007 ini saja, kebutuhan guru SMP, SMA dan SMK sebanyak 1126 orang, guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ada hanya 725 orang. Dalam artian, guru kurang sebanyak 401 orang hingga ditambah data 170 orang pada tahun ajaran 2007/2008, sehingga total berjumlah kekurangan guru menjadi 571 orang. Seandainya, tidak ada penambahan guru pada tahun ajaran baru 2007/2008, niscaya peningkatan mutu dunia pendidikan di Sawahlunto/Sijunjung tidak akan tercapai. Kondisi ini sangat bertentangan dengan visi-misi Kabupaten Sawahlunto Sijunjung dalam hal peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan. Kemajuan pendidikan baru dirasakan sebatas penambahan gedung sekolah, sayang sekolah yang menjamur tersebut tidak diiringi jumlah siswa yang betul-betul membutuhkan gedung untuk tempat belajar. Kita perlu juga bersyukur dengan kondisi yang ada saat ini, akan berdampak lebih baik kepada sektor pendidikan di daerah ini. Kemudian kita berharap kepada jajaran Dinas Pendidikan Sawahlunto Sijunjung menyampaikan kondisi riil posisi pendidikan secara terbuka. Jangan hanya baik diatas kertas, tapi semrawut hingga ke tingkat pelaksanaan. Kejujuran dalam memaparkan persoalan pendidikan daerah ini, akan membuka cakrawala berpikir untuk mencari penyelesaian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s