”Kunci Jawaban” Tercecer di WC


Aksi Walk Out (WO) yang dilakukan puluhan siswa SMK Dhuafa pada hari kedua ujian nasional (UN), masih dilakukan pada hari ketiga atau hari terakhir UN, kemarin. Para siswa ini mengadu ke Dinas Pendidikan (Disdik) Sumbar. Tindakan ini didukung yayasan, kepala sekolah dan sejumlah majelis guru.

Aksi siswa SMK Dhuafa ini memang berawal pada hari kedua UN (Rabu, 18/4) di SMKN 5 Padang, (tempat mereka numpang UN). Saat itu mereka menemukan ”kecurangan” yang berujung pada rasa “ketidak-adilan” bagi siswa SMK Dhuafa, yang sama-sama ujian dengan siswa SMKN 5. Karena tidak menerima perlakuan yang ”tidak adil” itu, puluhan siswa SMK Dhuafa memilih WO dan mengadukan persoalan yang terjadi ke Dinas Pendidikan Kota Padang.


Aksi siswa SMK Dhuafa ini memang berawal pada hari kedua UN (Rabu, 18/4) di SMKN 5 Padang, (tempat mereka numpang UN). Saat itu mereka menemukan ”kecurangan” yang berujung pada rasa “ketidak-adilan” bagi siswa SMK Dhuafa, yang sama-sama ujian dengan siswa SMKN 5. Karena tidak menerima perlakuan yang ”tidak adil” itu, puluhan siswa SMK Dhuafa memilih WO dan mengadukan persoalan yang terjadi ke Dinas Pendidikan Kota Padang.

Tidak puas sampai di situ, kemarin, mereka melakukan aksi unjuk rasa ke Dinas Pendidikan Sumbar. Otomatis mereka tidak mengikuti UN bidang studi Bahasa Inggris. Kedatangan siswa SMK Dhuafa bersama pengurus yayasan, kepala sekolah dan majelis guru di Dinas Pendidikan Sumbar diterima Wakil Kepala Dinas Pendidikan Sumbar Jasrial, dua orang panitia pelaksana ujian Syafruddin Abbas dan Amsir, sekitar pukul 11.00 WIB.

Di hadapan Jasrial yang juga Ketua Panitia UN Sumbar, mereka menyampaikan kekecewaan terhadap pelaksanaan UN yang terjadi di SMK 5. Mereka membeberkan kejanggalan yang mereka yakini telah terjadi di SMKN 5. “Kami rela tidak mengikuti UN hari terakhir, untuk mendapat keadilan. Percuma saja kami mengikuti ujian, karena pada hari kedua ujian kami tidak menyelesaikan lembar jawaban. Buat apa kami ujian lagi, toh nanti sudah jelas tidak lulus,” ujar salah seorang siswa SMK, Dika Jatmiko membuka pertemuan itu.

Nur Afni, siswa jurusan otomotif SMK Dhuafa dalam pertemuan itu juga memaparkan bahwa dirinya melihat banyak kejanggalan sebelum pelaksanaan ujian dimulai. ”Sepuluh menit sebelum UN dimulai, siswa-siswa SMK pakaiannya dirapikan oleh panitia ujian. Pada saat merapikan pakaian tersebut, panitia menyelipkan lembar jawaban ke pakaian siswa. Kenapa harus panitia yang merapikan bajunya, bukankah mereka pandai sendiri,” ujar Nur Afni yang sempat menangis ketika menumpahkan kekecewaannya. Hal ini, lanjut Nur Afni sudah dilaporkan kepada pengawas ujian. Namun jawabannya justru tidak memuaskan. Guru pengawas hanya mengatakan kalau mereka tidak bisa bertindak atas laporan itu.

Kemudian, Rifaldo juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap panitia ujian. Rifaldo melihat siswa-siswa SMKN 5 bolak-balik keluar masuk kelas menuju WC, tanpa diawasi. Bahkan menurutnya satu ruangan ada siswa yang keluar kelas hingga tiga orang. ”Kami ini orang miskin, tak mampu dan anak telantar. Tapi kami punya tekad untuk lulus dan membahagiakan orangtua. Tapi, ketika ada kecurangan dan ketidakadilan, kami jelas tidak terima,” kata Rifaldo. Sementara ketika dari SMK Dhuafa yang keluar ruangan diawasi ketat.

Sementara itu, Abdul Rahman dalam pertemuan itu juga menyatakan dirinya menyaksikan sendiri banyaknya kejanggalan yang terjadi di WC sekolah. ”Saya dilarang masuk WC. Tapi saya melihat lewat pintu ada sekitar lima siswa berada di dalam WC. Mereka memegang pena dan kertas dan terlihat sedang menulis sesuatu dari sesuatu yang terdapat di dinding WC,” ujarnya.

Disdik Kumpulkan Data

Menanggapi keluhan siswa tersebut, Jasrial berjanji dalam waktu tiga hari ini akan memberikan keputusan. Pihaknya saat ini mengumpulkan data untuk memastikan hal ini. “Semua aspirasi kita tampung dulu dan meminta siswa tetap tenang dan sabar dulu. Kita akan lakukan cek dan ricek untuk memastikan hal ini.

Saat ini kita belum bisa mengambil keputusan,” kata Jasrial. Hal ini, kata Jasrial akan dibicarakan dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) sebagai koordinator pelaksanaan UN. Keputusannya tergantung BSNP. Apakah ada ujian susulan untuk siswa SMK Dhuafa, Jasrial belum bisa memastikan. “Itu kembali tergantung pada BSNP sendiri,” ujarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s