Bola Pacah Dimakan Pemain

SEWAKTU duduk di kelas V SD , saya adalah bintang sepakbola. Setiap bertanding dengan kelas IV atau kelas VI, saya selalu dielu-elukan murid perempuan. Jika saya bolos sekolah, murid kelas V tidak bertanding. Begitu hebat dan besarnya pengaruh saya.
Baitu lo di kampuang, saya adalah pemain kampung yang tidak saja disegani lawan dan kawan, tapi juga bintang favorid, sehingga setiap main keikutsertaan saya selalu diharapkan.
Sewaktu di SD juga, bola yang kami sipak adalah buah limau gadang. Lebih bagus sedikit dari limau, bola kara yang dibeli bersama dengan beriyur.

SEWAKTU duduk di kelas V SD , saya adalah bintang sepakbola. Setiap bertanding dengan kelas IV atau kelas VI, saya selalu dielu-elukan murid perempuan. Jika saya bolos sekolah, murid kelas V tidak bertanding. Begitu hebat dan besarnya pengaruh saya.
Baitu lo di kampuang, saya adalah pemain kampung yang tidak saja disegani lawan dan kawan, tapi juga bintang favorid, sehingga setiap main keikutsertaan saya selalu diharapkan.
Sewaktu di SD juga, bola yang kami sipak adalah buah limau gadang. Lebih bagus sedikit dari limau, bola kara yang dibeli bersama dengan beriyur.
Pertandingan antar kelas, dilaksanakan di halaman sekolah. Main di kampung, lapangannya halaman rumah orang, halaman surau, padang tampek kubalo jawi dan sawah kariang.
Dari sekian banyak lapangan yang bisa dipergunakan untuk main bola, yang paling enak adalah sawah kering yang terletak di pinggir sungai. Sebab, begitu badan labagaluntun puntun dek paluah, main istirahat, pemain langsung mencebur ke sungai. Sudah tu main lo liak.
Bila main di sawah kering yang terletak di tepi sungai, bola limau yang dibawa tidak hanya dua atau tiga, tapi lima sampai tujuh buah, karano limau murah pacah.
Hebatnya, bola yang pecah sedang main, tidak dibuang, tapi dimakan dan dipacirabuian pemain. Maklum, kami main ditangah paneh garang sambia kubalo jawi, samantaro limau nan pacah manganduang aia, walau rasonya labiah banyak nan macam dari pado nan mani, malah paik stek.
Lebih hebat lagi, setiap tim saya main bola, baik di sekolah maupun di kampung, kami tidak pernah adu jotos di lapangan, seperti hobi dan kegemaran pemain sepakbola Indonesia sekarang.
Pada hal kami main tidak pakai wasit, apa lagi panitia disiplin dan pengawas pertandingan seperti kompetisi divisi III PSSI Sumbar atau liga Indonesia . Yang mengatur kami saat bermain adalah kesadaran dan kejujuran diri sendiri. Kok ais mangaku ais, kok bola kalua masuan liak.
Khusus kehebatan ini, sepertinya kami pemain sepakbola limau, lebih menjunjung tinggi sportifitas olahraga, dari pada pemain perserikatan atau club nan ringan kaki mandongkak pungguang atau kuduak lawan.
Kami sadar, saat berada dan bermain di lapangan bola, yang di sepak dan ditendang adalah bola, meski itu bola limau yang rada-rada berat dan keras, bukan punggung atau kuduk lawan.
Tim saya, baik murid kelas V maupun pemain kampung, sadar juga, jika hebat dongkak mandokak, mereka ikut pertandingan karate. Jika pintar adu jotos, dia latihan tinju.
Sekarang saya tidak lagi pemain dan bintang sepakbola, tapi pencandu bola. Olahraga saya sekarang bola sodok, namun tidak sehebat main bola sewaktu di SD. Karena tidak hebat, ketika main bola sodok, tongkat saya sering masuk lobang, sementara bola tinggal di luar. Eh, eh. –Nasrul Rasyad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s