Pedagang Ayam Mengeluh

Daya Beli Masyarakat Masih Rendah

SIJUNJUNG,—Para pedagang ayam masih mengeluhkan rendahnya daya beli masyarakat.Di Pasar Sijunjung misalnya, daya beli terhadap ayam terus merosot.Kondisi ini diakui para pedagang akibat dampak psikologis menyebarnya virus flu burung.
Informasi yang dihimpun Lansek Manih dari para pedagang ayam di Pasar Sijunjung, Kamis kemarin menyebutkan penjualan ayam kembali turun drastis. “Pembeli benar-benar sepi. Ini kita rasakan sejak sejak menyebarnya virus flu burung.Akibatnya, jangankan untung untuk kembali modal saja susah,” ujar Bujang salah seorang pedagang ayam di Pasar Sijunjung.


SIJUNJUNG,—Para pedagang ayam masih mengeluhkan rendahnya daya beli masyarakat.Di Pasar Sijunjung misalnya, daya beli terhadap ayam terus merosot.Kondisi ini diakui para pedagang akibat dampak psikologis menyebarnya virus flu burung.
Informasi yang dihimpun Lansek Manih dari para pedagang ayam di Pasar Sijunjung, Kamis kemarin menyebutkan penjualan ayam kembali turun drastis. “Pembeli benar-benar sepi. Ini kita rasakan sejak sejak menyebarnya virus flu burung.Akibatnya, jangankan untung untuk kembali modal saja susah,” ujar Bujang salah seorang pedagang ayam di Pasar Sijunjung.
Menurut pedagang ayam ini, biasa sehari berjualan — setiap hari pasar bisa menghabiskan sebanyak 80 ekor ayam perhari.Namun sejak, munculnya kasus flu burung hingga sekarang daya beli masyarakat masih rendah.
”Biasa setiap hari pasar bisa terjual sebanyak 80 ekor, namun sejak munculnya kasus flu burung hingga sekarang, 10 ekor saja perhari susah terjual,” sebut Bujang yang didampingi istrinya.
Dia mengatakan meski sepi pembeli, ia masih tetap bertahan.Tidak ada niat untuk mengalihkan usahanya.Sebab, usaha berdagang ayam ini sudah puluhan tahun ia lakoni bersama istrinya.”Amak indak manuka usaho do.Sabab, manggaleh ayam awak mulai sajak tahun 1973,” ujar istri Bujang ini.
Menurutnya, berkurangnya daya beli masyarakat terhadap ayam potong lebih disebabkan dampak phisikologis dari pembeli yang tak mau ambil resiko dan mengkonsumsi ayam.Padahal, katanya, kasus flu burung di kabupaten ini sudah dikatakan aman sejak akhir tahun lalu.
Senada dengan Bujang, Des pedagang ayam lainnya yang ditanya Haluan juga mengaku sama.Menurutnya, meski virus flu burung sudah dinyatakan aman di kabupaten ini sejak sebulan yang lalu, namun daya beli masyarakat terhadap ayam masih rendah.
Padahal, sebut Des yang didampingi ibunya, harga jual ayam turun.Biasanya ayam potong enam saja bisa di jual dengan harga Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per ekor.Sekarang dijual dengan harga Rp 20 per ekor. Itupun, katanya, sulit lakunya.
Pedagang ayam ini minta pemerintah terus meyakinkan masyarakat bila mengkonsumsi ayam dengan cara di masak tidak akan terkena wabah flu burung. “Kalau tidak begitu kita bisa bangkrut.Jangankan untung, untuk ongkos mobil saja susah didapat karena modal terus berkurang,” ujarnya.—alek piliang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s